
Sebenarnya, hampir sulit saya meluangkan waktu untuk beraktivitas di sosial media. Buktinya, blog saya ini jarang sekali update. Adalah masalah klasik, soal kesibukan di sekolah menyita perhatian saya. Selain mengajar, harus memberi motivasi, memerhatikan dan kadang meluangkan waktu untuk ikut bincang-bincang ringan bersama murid (bahasa sasaknya : ngotok-ngotok), harus mengevaluasi, sampe2 urusan administrasi sekolah yang seharusnya dikerjakan oleh pegawai tata usaha harus saya kerjakan. Apalagi harus membantu bendahara sekolah, bisa dipastikan, pekerjaan sekolah saya bawa ke rumah.
Lain di sekolah, lain di rumah. Jam satu siang, setelah 45menit perjalanan dari sekolah ke rumah, di rumah sudah menunggu dua jagoan, yang semoga menjadi generasi terbaik di masanya, anak saya shofia dan aziz. Tidak cukup sekedar peluk-cium bagi mereka. Saya harus menemani mereka bermain, memandikan mereka saat sore datang.
Jadi kesempatan untuk online, ya, sekitar tengah malam, setelah empat jam ikut tidur bersama mereka di ranjang. Kalau tidak begitu, pasti ada kerjaan yang tidak terlaksana maksimal. Sebagai suami, saya juga harus membantu istri yang kelelahan mengurus rumah. Nah, pagi ini, saya menyempatkan membuka akun fesbuk sebentar, sekedar melihat notif, pesan, tag temen2, atau status terbaru di beberapa grup diskusi. Di grup character education, saya mendapat tulisan bagus, yang saya piker perlu untuk saya tulis di blog ini kembali.
Thread ini dibuat oleh Mitra Padli. Saya pikir ini pesan yang luar biasa.
Ada theory yang mengatakan bahwa otak atau alam bawah sadar manusia lebih mudah menerima dan mengingat hal-hal negative dibandingkan menerima dan mengingat hal-hal positive.Itulah sebabnya para ahli psikologi anak menghimbau untuk tidak menggunakan instruksi-instruksi beristilah negatif kepada anak, contoh jangan pulang telat (si anak malah pulangnya telat), pulang sekolah jangan main di sungai (pulang sekolah si anak basah kuyup habis mandi disungai), jangan main api (pulang2 rumahnya terbakar karena anaknya habis main api), sehingga para orang tua lebih dianjurkan untuk menggunakan kata-kata positif, misalnya pulang sekolah langsung kerumah ya, main boneka aja, atau jam 3 sudah dirumah yah,dsb,dsb.
Itulah gambaran otak manusia yang lebih mudah menerima dan mengingat hal-hal yg buruk/negative ketimbang yang baik/positif. Contoh yang lain juga dapat kita lihat,ketika kita diminta untuk memberikan kesan tentang seseorang yang kita kenal.Kemungkinan besar lebih banyak kesalahan,kegagalan,keburukan dan kelemahannya yang kita ingat dibandingkan kebaikan,prestasi,kebaikan dan kelebihannya..Kita mudah dalam menjelekkan seseorang,dibandingkan memuji orang lain..Saatnya membalikkan keadaan......wassalamMemberi pesan positif, memanggil dengan panggilan yang baik memang tidak semudah membalik telapak tangan bagi yang tidak terbiasa. Contohnya di sekolah2 pinggir kabupaten/kota, masih ada, walau tidak semua, guru sering terdengar memanggil atau memberi stigma negatif pada anak. Saya sendiri di kelas, kalau tidak sabar2 menangani tingkah polah anak2, sumpah serapah bahkan kekerasan fisik bisa terjadi kapan saja.
Kesabaran guru adalah sesuatu yang mahal buat saya. sabar dan konsisten, itu tidak mudah.
Saat banyak guru yang hanya mengharapkan, bahkan mati2an (sampai meninggalkan kelas. red), mengurusi sertifikasi sebagai hak profesionalisme mereka, tapi di satu sisi, masih ada guru yang meninggalkan kewajiban mengajar, mengajar dengan cara bermoral tinggi. Karena banyak kasus dan cerita yang bisa dijadikan pelajaran bagaimana anak itu tumbuh kembang dari kebiasaan di luar yang mereka dapatkan. Bila baik, maka baiklah anak tersebut. Dan sebaliknya, bila buruk, maka buruklah yang akan terjadi.
Semoga ini menjadi semangat buat kita pagi ini.

